Hidup adalah Apa yang Kamu Jalani Hari Ini

Kemarin adalah Pelajaran dan Esok Adalah Sebuah Harapan.

Categories

Ketekunan Adalah Kekuatanmu

Apa yang kamu raih sekarang adalah hasil dari usaha – usaha kecil yang kamu lakukan terus – menerus. Keberhasilan bukan sesuatu yang turun begitu saja. Bia kita yakin pada tujuan dan jalan kita, maka kita harus memliki ketekunan untuk tetap berusaha.

Bayarlah Sewa Anda Di Bumi

Coba ibaratkan hidup di dunia seperti kost atau menginap di hotel, berapa yang seharusnya sudah kita bayar kepada-Nya sebagai pemilik tempat kita tinggal? Belum lagi jika ditambah fasilitas udara gratis, air hujan, pemandangan alami berupa langit dan bintang gemintang di langit.

Saya Seorang Remaja

Remaja menurut banyak orang merupakan masa yang paling indah. Namun dibalik keindahan masa remaja terdapat suatu kekhawatiran yang luar biasa. Karena masa remaja merupakan masa peralihan menuju masa kematangan, dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa.

7 Cara Atasi Rasa Malu

Sifat pemalu biasanya membuat seseorang kehilangan kesempatan, kurang mendapat kesenangan dan terkucil dari hubungan sosial. Sifat pemalu dapat membawa banyak kerugian.

Ilmu Tentang Cinta

Tulisan ini terinspirasi dari kesadaran saya akan setiap maha karya kreatifitas manusia di dunia, dari mulai lagu, mitos dan dongeng, hingga berbagai kreasi lukisan, pahatan serta arsitektur.

Tampilkan postingan dengan label Kesehatan Remaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan Remaja. Tampilkan semua postingan

. Hubungan Antara Psikologi Remaja dengan Penundaan Usia Perkawinan

Berdasarkan beberapa periode perkembangan psikologis
remaja di atas, maka periode ambang masa dewasa
merupakan periode dimana usia remaja mendekati usia
kematangan baik dari segi fisik maupun psikologis. Pada
periode tersebut, remaja berusaha untuk meninggalkan ciri
masa remaja dan berupaya memberikan kesan bahwa
mereka sudah mendekati dewasa. Oleh karena itu, remaja
mulai memusatkan diri pada perilaku yang dihubungkan
dengan status dewasa, seperti keseriusan dalam membina
hubungan dengan lawan jenis.
Berkaitan dengan perkawinan, maka pada periode ambang
masa dewasa, individu dianggap telah siap menghadapi
suatu perkawinan dan kegiatan-kegiatan pokok yang
bersangkutan dengan kehidupan berkeluarga. Pada masa
tersebut, seseorang diharapkan memainkan peran baru,
seperti peran suami/isteri, orangtua dan pencari nafkah
(Hurlock, 1993). Namun demikian, kestabilan emosi
umumnya terjadi pada usia 24 tahun, karena pada saat itulah
orang mulai memasuki usia dewasa. Masa remaja, boleh
dibilang baru berhenti pada usia 19 tahun dan pada usia
20-24 tahun dalam psikologi, dikatakan sebagai usia dewasa

muda. Pada masa ini, biasanya mulai timbul transisi dari
gejolak remaja ke masa dewasa yang lebih stabil. Maka,
kalau pernikahan dilakukan di bawah 20 tahun secara emosi
remaja masih ingin bertualang menemukan jati dirinya.
Perkawinan bukanlah hal yang mudah, di dalamnya
terdapat banyak konsekuensi yang harus dihadapi sebagai
suatu bentuk tahap kehidupan baru individu dan pergantian
status dari lajang menjadi seorang istri atau suami yang
menuntut adanya penyesuaian diri terus-menerus
sepanjang perkawinan (Hurlock, 1993). Masalah
penyesuaian diri dalam berumah tangga merupakan hal
yang paling pokok dalam membina kebahagian dan
keutuhan rumah tangga.
Perkawinan bukan hanya hubungan antara dua pribadi,
akan tetapi juga merupakan suatu lembaga sosial yang
diatur oleh masyarakat yang beradab untuk menjaga dan
memberi perlindungan bagi anak-anak yang akan
dilahirkan dalam masyarakat tersebut, serta untuk
menjamin stabilitas dan kelangsungan kelompok
masyarakat itu sendiri. Banyaknya peraturan-peraturan dan
larangan-larangan sosial bagi sebuah perkawinan
membuktikan adanya perhatian yang besar dari masyarakat
untuk sebuah perkawinan yang akan terjadi.
Kesiapan psikologis menjadi alasan utama untuk menunda
perkawinan. Kesiapan psikologis diartikan sebagai
kesiapan individu dalam menjalankan peran sebagai suami
atau istri, meliputi pengetahuan akan tugasnya masing-
masing dalam rumah tangga. Jika pasangan suami istri
tidak memiliki pengetahuan yang cukup akan menimbulkan
kecemasan terhadap perkawinan. Akan tetapi sebaliknya
bila pasangan suami istri memiliki pengetahuan akan
tugasnya masing-masing akan menimbulkan kesiapan
psikologis bagi kehidupan berumah tangga. Pasangan yang
siap secara psikologis untuk menikah akan bersikap tidak
saja fleksibel dan adaptif dalam menjalani kehidupan
rumah tangga akan tetapi melihat kehidupan rumah tangga
sebagai suatu yang indah.
Keuntungan dari perkawinan yang dilakukan oleh
pasangan yang siap secara psikologis adalah mereka akan
menyadari implikasi dari sebuah perkawinan dan
menyadari arti dari perkawinan bagi kehidupannya. Oleh
karena itu kesiapan psikologis sangat diperlukan dalam
memasuki kehidupan perkawinan agar pasangan siap dan
mampu menghadapi berbagai masalah yang timbul dengan
cara yang bijak, tidak mudah bimbang dan putus asa.
Hanya pasangan suami istri yang mampu melakukan
penyesuaian diri dalam kehidupan rumah tangga yang akan
berhasil mewujudkan kehidupan rumah tangga yang
diinginkannya. Kesiapan psikologis berkaitan dengan
pemenuhan hak dan tanggung jawab yang harus diemban
oleh masing-masing pihak. Berkaitan dengan hal tersebut,
maka untuk membentuk keluarga yang bahagia dan
sejahtera, seorang calon suami/isteri harus benar-benar
siap dan matang secara psikologis.
Pasangan yang memiliki kesiapan untuk menjalani
kehidupan perkawinan akan lebih mudah menerima dan

menghadapi segala konsekuensi persoalan yang timbul
dalam perkawinan. Sebaliknya, pasangan yang tidak
memiliki kesiapan menuju kehidupan perkawinan belum
dapat disebut layak untuk melakukan perkawinan,
sehingga mereka dianjurkan untuk melakukan penundaan
atau pendewasaan usia perkawinan.
Penundaan usia perkawinan sampai pada usia minimal 20
tahun bagi perempuan dan 25 tahun bagi laki-laki diyakini
banyak memberikan keuntungan bagi pasangan dalam
keluarga. Perkawinan di usia dewasa juga akan
memberikan keuntungan dalam hal kesiapan psikologis.
Semua bentuk kesiapan ini mendukung pasangan untuk
dapat menjalankan peran baru dalam keluarga yang akan
dibentuknya agar perkawinan yang dijalani selaras, stabil
dan pasangan dapat merasakan kepuasan dalam
perkawinannya kelak.

Periode Perkembangan Psikologis Remaja

Hurlock (1994) mengemukakan beberapa periode dalam
perkembangan psikologis remaja, antara lain:


Periode peralihan, yaitu peralihan dari tahap
perkembangan sebelumnya ke tahap perkembangan
selanjutnya secara berkesinambungan. Dalam setiap
periode peralihan, status individu tidaklah jelas dan
terdapat keraguan akan peran yang harus dilakukan.
Dalam periode ini remaja menentukan pola perilaku,
nilai dan sifat yang sesuai dengan dirinya;

Periode perubahan, yaitu perubahan emosi, perubahan
peran dan minat, perubahan perilaku dan perubahan
sikap;

Periode bermasalah, yaitu periode yang ditandai
dengan munculnya berbagai masalah yang dihadapi
oleh remaja dan sering sulit untuk diatasi. Hal tersebut
disebabkan oleh karena remaja tidak berpengalaman
dalam mengatasi masalah, namun ingin menyelesaikan
masalah dengan caranya sendiri;

Periode pencarian identitas diri, yaitu pencarian
kejelasan mengenai siapa dirinya dan apa perannya
dalam masyarakat. Pencarian identitas diri, seringkali
dilakukan oleh remaja dengan menggunakan simbol
status dalam bentuk mobil, pakaian ataupun barang-
barang yang dapat terlihat. Periode ini sangat
dipengaruhi oleh kelompok sebayanya.

Periode yang menimbulkan ketakutan, yaitu periode
dimana remaja memperoleh stereotipe sebagai remaja
yang tidak dapat dipercaya dan berperilaku merusak.
Stereotipe tersebut mempengaruhi konsep diri dan
sikap remaja terhadap dirinya sendiri.

Periode yang tidak realistik, yaitu periode dimana
remaja memandang kehidupan dimasa yang akan

datang melalui idealismenya sendiri yang cenderung
saat itu tidak realistik.


Periode ambang masa dewasa, yaitu masa semakin

mendekatnya usia kematangan dan berusaha untuk
meninggalkan periode remaja dan memberikan kesan
bahwa mereka sudah mendekati dewasa.

Gambaran Psikologi Remaja

Masa remaja adalah masa peralihan atau masa transisi dari
masa anak-anak menuju masa dewasa (Hurlock, 1993).
Pada masa ini, remaja mengalami beberapa perubahan
yaitu dalam aspek jasmani, rohani, emosional, sosial dan
personal (WHO, 2002). Selain perubahan fisik, remaja
juga akan mengalami perubahan-perubahan pikiran,
perasaan, lingkungan pergaulan dan tanggung jawab yang
dihadapi. Akibat berbagai perubahan tersebut, remaja juga
akan mengalami perubahan tingkah laku yang dapat
menimbulkan konflik dengan orang disekitarnya, seperti
konflik dengan orangtua atau lingkungan masyarakat
sekitarnya. Konflik tersebut terjadi akibat adanya
perbedaan sikap, pandangan hidup, maupun norma yang
berlaku di masyarakat (Willis, 2008).

Batasan Usia Remaja
Hurlock (1993) membagi tahapan usia remaja berdasarkan
perkembangan psikologis, sebagai berikut:


Pra remaja (11-13 tahun)
Pra remaja ini merupakan masa yang sangat pendek
yaitu kurang lebih hanya satu tahun. Pada masa ini
dikatakan juga sebagai fase yang negatif, hal tersebut
dapat terlihat dari tingkah laku mereka yang cenderung
negatif, sehingga fase ini merupakan fase yang sulit
bagi anak maupun orangtuanya.

Remaja awal (14-17 tahun)
Pada masa ini, perubahan-perubahan fisik terjadi
sangat pesat dan mencapai pada puncaknya.
Ketidakseimbangan emosional dan ketidakstabilan
dalam banyak hal terdapat pada masa ini. Remaja
berupaya mencari identitas dirinya, sehingga statusnya
tidak jelas. Selain itu, pada masa ini terjadi perubahan
pola-pola hubungan sosial.

Remaja lanjut (18-21 tahun)


Dirinya ingin selalu menjadi pusat perhatian dan ingin
menonjolkan diri. Remaja mulai bersikap idealis,
mempunyai cita-cita tinggi, bersemangat dan
mempunyai energi yang sangat besar. Selain itu,
Remaja mulai memantapkan identitas diri dan ingin
mencapai ketidaktergantungan emosional.

Ciri Psikologis Remaja



Masa remaja merupakan masa yang penuh gejolak.
Pada masa ini mood (suasana hati) bisa berubah
dengan sangat cepat. Perubahan mood (swing) yang
drastis pada para remaja ini seringkali dikarenakan
beban pekerjaan rumah, pekerjaan sekolah, atau
kegiatan sehari-hari di rumah.

Remaja mengalami perubahan yang dramatis dalam
kesadaran diri mereka (self-awareness). Mereka
sangat rentan terhadap pendapat orang lain karena
mereka menganggap bahwa orang lain sangat
mengagumi atau selalu mengkritik mereka, seperti
mereka mengagumi atau mengkritik diri mereka
sendiri.

Remaja sangat memperhatikan diri mereka dan citra
yang direfleksikan (self-image). Remaja cenderung
untuk menganggap diri mereka sangat unik dan bahkan
percaya keunikan mereka akan berakhir dengan
kesuksesan dan ketenaran.
Para remaja juga sering menganggap diri mereka serba
mampu, sehingga seringkali mereka terlihat tidak
memikirkan akibat dari perbuatan mereka. Tindakan
impulsif sering dilakukan, sebagian karena mereka
tidak sadar dan belum biasa memperhitungkan akibat
jangka pendek atau jangka panjang.
Pada usia 16 tahun ke atas, keeksentrikan remaja akan

berkurang karena telah sering dihadapkan pada dunia
nyata. Remaja akan mulai sadar bahwa orang lain
tenyata memiliki dunia tersendiri dan tidak selalu sama
dengan yang dihadapi atau dipikirkannya. Pada saat
ini, remaja mulai dihadapkan dengan realita dan
tantangan untuk menyesuaikan impian atau angan-angan
mereka dengan kenyataan.

Pendewasaan Usia Perkawinan Dan Kesiapan Ekonomi Keluarga

1. Ekonomi Keluarga

Ilmu ekonomi merupakan cabang ilmu sosial yang

mempelajari berbagai perilaku pelaku ekonomi terhadap

keputusan-keputusan ekonomi yang dibuat. Ilmu ini

diperlukan sebagai kerangka berpikir untuk dapat

melakukan pilihan terhadap berbagai sumber daya yang

terbatas untuk memenuhi kebutuhan manusia yang tidak

terbatas. Ilmu ekonomi muncul karena adanya tiga

kenyataan berikut : 1) Kebutuhan manusia relatif tidak

terbatas; 2) Sumber daya tersedia secara terbatas; 3)

Masing-masing sumber daya mempunyai beberapa

alternatif penggunaan.

Secara garis besar ilmu ekonomi dapat dibedakan menjadi

2 (dua) bahasan yaitu Ilmu ekonomi makro, yaitu ilmu

yang menganalisis kegiatan perekonomian secara

keseluruhan, seperti pendapatan nasional, kesempatan

kerja, dan tingkat harga pada umumnya; dan ilmu ekonomi

mikro, yaitu ilmu yang mempelajari dan menganalisis

bagian-bagian tertentu dari keseluruhan kegiatan

perekonomian seperti tingkah laku konsumen dan tingkah

laku produsen. Ekonomi keluarga termasuk dalam

pembahasan ekonomi mikro. Pembahasan ekonomi

keluarga adalah pembahasan atau analisis yang berkaitan

dengan perilaku ekonomi keluarga yang dikaitkan dengan

proses permintaan dan pemenuhan kebutuhan ekonomi

keluarga. 

Masalah perekonomian keluarga adalah salah satu sumber

disorganisasi dalam keluarga. Umumnya masalah keluarga

mulai dari hal-hal kecil sampai pada perceraian disebabkan

oleh masalah ekonomi keluarga.

Menurut undang-undang no. 10 tahun 1992 tentang

Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera,

yang dimaksudkan dengan keluarga dinyatakan sebagai

unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami/

istri dengan anaknya atau ayah dengan anaknya atau ibu

dengan anaknya. Dan yang dimaksudkan keluarga

sejahtera adalah keluarga yang dibentuk berdasarkan atas

perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan

spiritual dan materi yang layak, bertaqwa kepada Tuhan

Yang Maha Esa, memiliki hubungan yang serasi, selaras

dan seimbang antar anggota dan antar keluarga dengan

masyarakat dan lingkungannya. Keluarga sejahtera dapat

diklasifikasikan menurut kelompok sebagai berikut: 1)

Keluarga Pra Sejahtera; 2) Keluarga Sejahtera Tahap I; 3)

Keluarga Sejahtera Tahap II; 4) Keluarga Sejahtera Tahap

III; 5) Keluarga Sejahtera Tahap III+.

2. Jenis Kebutuhan Keluarga

Kebutuhan Primer

Kebutuhan primer keluarga adalah kebutuhan yang benar-

benar amat sangat dibutuhkan oleh keluarga dan sifatnya

wajib untuk dipenuhi. Contohnya kebutuhan sandang,

pangan dan papan.





Kebutuhan Sekunder

Kebutuhan sekunder keluarga adalah kebutuhan yang

diperlukan setelah semua kebutuhan pokok terpenuhi.

Contohnya kebutuhan rekreasi, kebutuhan transportasi,

kesehatan dan pendidikan.



Kebutuhan Tersier

Kebutuhan tersier keluarga adalah kebutuhan manusia

yang sifatnya mewah, tidak sederhana dan berlebihan yang

timbul setelah terpenuhinya kebutuhan primer dan

kebutuhan sekunder. Contohnya adalah mobil, komputer,

apartemen, dan lain sebagainya.

3. Pendewasaan Usia Perkawinan Dan Kesiapan

Ekonomi Keluarga

Kebutuhan primer, sekunder dan tersier keluarga seperti

diuraikan diatas adalah fakta yang tidak bisa dipungkiri.

Setiap keluarga memerlukan ketiga jenis kebutuhan

tersebut. Kebutuhan primer keluarga apabila tidak

dipenuhi akan menjadi sumber permasalahan dari atau

bagi keluarga bersangkutan seperti diuraikan dimuka.

Oleh sebab itu idealnya setiap calon suami/istri harus

sudah menyiapkan diri untuk mampu memenuhi

kebutuhan primer keluarga apabila ingin melangsungkan

pernikahan untuk membentuk keluarga baru.

Implikasinya apabila pasangan suami/istri memasuki

kehidupan keluarga tanpa kesiapan untuk memenuhi

kebutuhan-kebutuhan primer (ekonomi) keluarganya

berarti pasangan yang bersangkutan akan mengalami

banyak permasalahan dalam kehidupan berkeluarga. Dan

ini berarti konsep Keluarga Sejahtera yang diinginkan oleh

UU no.10 tahun 1992 akan sulit terwujud. Oleh sebab itu

program PKBR menganjurkan setiap remaja

mempersiapkan diri secara ekonomi sebelum memasuki

kehidupan rumah tangga. Salah satu cara penyiapan diri

tersebut adalah dengan menunda usia perkawinan sampai

dengan adanya kesiapan secara ekonomi bagi masing-

masing pasangan atau calon suami/istri.