Hidup adalah Apa yang Kamu Jalani Hari Ini

Kemarin adalah Pelajaran dan Esok Adalah Sebuah Harapan.

Categories

Ketekunan Adalah Kekuatanmu

Apa yang kamu raih sekarang adalah hasil dari usaha – usaha kecil yang kamu lakukan terus – menerus. Keberhasilan bukan sesuatu yang turun begitu saja. Bia kita yakin pada tujuan dan jalan kita, maka kita harus memliki ketekunan untuk tetap berusaha.

Bayarlah Sewa Anda Di Bumi

Coba ibaratkan hidup di dunia seperti kost atau menginap di hotel, berapa yang seharusnya sudah kita bayar kepada-Nya sebagai pemilik tempat kita tinggal? Belum lagi jika ditambah fasilitas udara gratis, air hujan, pemandangan alami berupa langit dan bintang gemintang di langit.

Saya Seorang Remaja

Remaja menurut banyak orang merupakan masa yang paling indah. Namun dibalik keindahan masa remaja terdapat suatu kekhawatiran yang luar biasa. Karena masa remaja merupakan masa peralihan menuju masa kematangan, dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa.

7 Cara Atasi Rasa Malu

Sifat pemalu biasanya membuat seseorang kehilangan kesempatan, kurang mendapat kesenangan dan terkucil dari hubungan sosial. Sifat pemalu dapat membawa banyak kerugian.

Ilmu Tentang Cinta

Tulisan ini terinspirasi dari kesadaran saya akan setiap maha karya kreatifitas manusia di dunia, dari mulai lagu, mitos dan dongeng, hingga berbagai kreasi lukisan, pahatan serta arsitektur.

Tampilkan postingan dengan label Pelajaran Hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pelajaran Hidup. Tampilkan semua postingan

Kenali Orang Tuamu

Banyak orang yang tinggal di Jakarta tetapi belum pernah ke Monas. Banyak orang yang tinggal di Bogor tetapi belum pernah ke Kebun Raya. Banyak pula orang yang tinggal satu rumah dengan orang tuanya tetapi dia tidak mengenal baik siapa orang tuanya. Karenanya kenalilah dengan baik siapa orang tua Anda.

Setiap orang memiliki kelemahan, termasuk orang tua kita, namun fokuslah selalu pada kebaikannya. Ibaratnya jika baju putih bagian sakunya ternoda tinta hitam, maka jangan hanya memperhatikan noda hitamnya. Bukankah bagian lain yang berwarna putih jauh lebih banyak? Jadi, walaupun orang tua kita memiliki kekurangan namun fokuslah pada kebaikan-kebaikannya.

Mari kita mulai menyelami kebaikan-kebaikan dari ayah kita. Bayangkanlah wajahnya. Dia adalah sosok lelaki yang rela berjuang bermandi keringat demi kehidupan keluarga agar lebih bermartabat.

Sesekali ia jatuh sakit karena lelah mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk menafkahi anak dan istrinya. Suatu waktu ia juga pernah meminjam uang demi kelangsungan hidupmu. Ia harus banting tulang untuk menyekolahkanmu. Ia pernah menanggung malu karena ulahmu. Ia terus menjagamu dan merawatmu walau kadang kau menyakiti dengan kata-kata dan tindakanmu.

Sekarang bayangkanlah perjuangan ibumu. Berbulan-bulan, ia membawamu di dalam perutnya kemanapun ia pergi. Ia bertaruh nyawa ketika melahirkanmu. Tatkala orang lain terlelap, ia rela bangun malam menyusui dan mengganti popokmu. Manusia mana yang bersedia merawatmu hingga berbulan-bulan tanpa pernah mengeluh kecuali ibumu?

Saat kau berulah dan menangis, ia dengan sabar merayumu, menggendongmu dan juga mengusap rambutmu. Ketika kau sakit tak berdaya, dengan setia dia menemanimu, menjagamu dan merawatmu. Ia rela kehilangan waktu berharganya demi mendampingimu.

Kini kedua orangtuamu telah renta atau bahkan beberapa dari kita sudah tak memilikinya. Bagi Anda yang sudah ditinggalkan orang tua doakanlah mereka selalu. Bagi mereka yang beruntung masih memilikinya, sekaranglah saat yang tepat untuk membahagiakan mereka walau dengan cara yang sangat sederhana.


JanganTerlaluRumit

Seorang Minang merantau ke Jakarta. Ia memulai usahanya dari kecil dan terus bertumbuh hingga perusahaannya beranak pinak. Namun, ia tetap menjalankan bisnisnya dengan sangat sederhana: Uang masuk disimpan di toples, uang keluar (untuk pembayaran) disimpan di kaleng biskuit.
Suatu hari, anaknya yang baru lulus sekolah bisnis dari Harvard University bertanya, “Ayah ini kuno amat sih. Bagaimana ayah bisa mengelola perusahaan dengan cara tradisional seperti itu? Bagaimana ayah tahu berapa keuntungan perusahaan ayah?”
Sambil mengunyah  sate padang sang ayah menjawab, “Anakku, ketika pertama kali datang ke Jakarta, aku tak punya apa-apa kecuali baju dan celana yang aku pakai. Sekarang, kakak pertamamu sudah menjadi pengusaha besar.Kakak keduamu sudah menjadi dokter pesialis jantung. Sementara adik mu masih kuliah di Oxford University. Dan kamu baru lulus dari salah satu sekolah bisnis terbaik di dunia.

“Akutahu ayah, tapi…”

“Aku dan bundamu setiap tahun umroh.Kami tinggal di perumahan mewah.Kami pakai mobil yang bergengsi keluaran terbaru.Perusahaan ayah terus bertambah.Perlu kamu catat, ayah dan bundamu tidak punya hutang samasekali. Jadi sekarang kau jumlahkan yang ayah sebut tadi kemudian kurang kan dengan baju dan celana, maka itulah keuntungan yang kita dapat selama ini…”

Bertanya ????????????????????

Bertanya adalah salah satu bentuk keakraban. Bertanya bisa mencairkan suasana yang kaku. Bertanya bisa menunjukkan empati dan perhatian. Bertanya juga bisa menunjukkan kualitas si penanya. Tapi, perlu diingat, salah bertanya bisa merusak suasana…

Jadi, jangan sembarangan Anda bertanya. Bertanya “berapa putranya?” kepada orang yang belum dikaruniai momongan, pastilah sangat menyiksa yang ditanya.  Bertanya “bekerja dimana?” kepada orang yang belum bekerja adalah bentuk penyiksaan batin kepada yang ditanya.

Bertanya memang tidak salah, tetapi sembarangan bertanya itu salah besar. “Perbaikilah caramu bertanya karena pertanyaan bisa juga menunjukkan kualitas dirimu.”

Jangan pernah Anda bertanya yang sifanya pribadi sebelum Anda akrab dan dekat dengan yang ditanya. Pertanyaan anaknya berapa? Gajinya berapa? Istrinya berapa? Sudah menikah belum? Adalah bentuk pertanyaan tabu yang seharusnya tidak ditanya saat pertama kali berjumpa.

Bertanya juga menunjukkan minat seseorang. Orang yang bertanya “kerja dimana?” menurut saya minatnya memang ingin jadi karyawan. Sementara orang yang bertanya “perusahaannya sudah berapa? atau “perusahaannya dimana saja?” menunjukkan minatnya menjadi pengusaha.

Nah, sebelum Anda sibuk bertanya kepada orang lain, mari kita banyak bertanya kepada diri sendiri. misalnya bertanya seperti ini: “Apakah orang tuaku sudah bangga dengan aku? Apakah prestasiku sudah di atas rata-rata kebanyakan orang? Apakah kehidupanku setiap tahunnya sudah bertumbuh ke arah yang lebih positif? Apakah orang-orang yang aku cintai bangga dengan aku?”

Terakhir, jawablah dengan tulus pertanyaan yang mendasar dan amat penting ini: “Bila saat ini aku meninggal dunia, sudah pantaskah aku meminta surga kepada-Nya?

Bayarlah SewaAnda di Bumi

Anda pernah menginap di hotel? Anda pernah kost atau kontrak rumah? Apa saja fasilitasnyaBerapa Anda harus bayar setiap malam, setiap bulan, setiap tahun?


Coba ibaratkan hidup di dunia seperti kost atau menginap di hotel, berapa yang seharusnya sudah kita bayar kepada-Nya sebagai pemilik tempat kita tinggal? Belum lagi jika ditambah fasilitas udara gratis, air hujan, pemandangan alami berupa langit dan bintang gemintang di langit. Ditambah lagi pegunungan yang sejuk, lautan luas, danau dan keindahan alam lainnya.

Bisa menghitung berapa kira-kira yang harus kita bayar? Coba hitung sejak kita lahir hingga usia kita saat ini. Sanggupkah kita membayarnya? Bila kita menjawab dengan jujur, saya yakin kita takakan sanggup membayarnya. Alhamdulillah, Sang Pemilik tidak meminta kita membayar dengan uang. Dia hanya minta kita membayarnya dengan 2 hal: 

 ibadah dan peduli.


Pertanyaannya, apakah kita sudah beribadah dengan sungguh-sungguh? Seberapa sering kita berada di tempati badah untuk memuja-Nya? Berapa halaman setiap hari kita membaca Kitab Suci? Seberapa sering kita merendahkan diri dan berdoa di hadapan-Nya? Apakah kita selalu ingat kepada Sang Pencipta dimanapun dan kapanpun kita berada?

Dalam hal kepedulian, berapa orang yang sudah kita berdayakan? Jejak-jejak kebaikan apa yang sudah kita tinggalkan di semesta? Berapa orang yang sudah merasakan manfaat atas kehadiran kita dimuka bumi? Berapa alokasi dana yang selalu kita sisihkan untuk orang-orang di sekitarkita?

Segeralah bayar “sewa” kita. Jangan ditunda-tunda. Sebab, Sang Pemilik punya hak untuk mengusir kita. Kemana kita akan pergi jika diusir oleh Sang Pemilik Bumi?

ApakahTuhanItu Ada?

Ada kisah menarik antara tukang cukur (pemangkas rambut dan kliennya..

Tukang cukur : "Pak apakah bapak termasuk orang yang percaya akan adanya Tuhan atau tidak?"
Klien : "Oh tentu saja.. saya sangat percaya akan adanya Tuhan yang menciptakan makhluk manusia dan makhluk hidup lainya"
Tukangcukur : "Kalau saya terbalik pak, saya termasuk orang yang tidak percaya akan adanya Tuhan."
Klien :"Lho mengapa Anda meragukan akan adanya Tuhan?.. Apakah kamu memiliki pengalaman pahit denganTuhan?"

Sebelum siTukang cukur menjawab pertanyaan siKlien, siTukang cukur mengajak Kliennya untuk menengok keluar jendela tempat seorang pengemis kotor tengah mengais-ngais makanan dari bak penampungan sampah

Tukang cukur : "Coba bapak liat pengemis itu! Jika Tuhan memang benar-benar ada, mana mungkin Dia membiarkan pengemis itu kelaparan. Lalu mana sifat Tuhan yang Maha pengasih dan Maha penyayang?"

Si Bapak yang dicukur agak kesulitan untuk membantah pernyataan siTukangcukur yang tampaknya sangat masukakal. Setelah selesai memangkas rambut dan membayar ongkos, sibapak bangkit dari tempa tduduk dan melangkah menuju pintu keluar tempat cukur itu. Namun tiba-tiba ia menghentikan langkahnya ketika di balik pintu ia melihat seorang laki-laki tidak waras dengan wajah berewokan dan rambut gondrong tidak terurus. Ia pun cepat-cepat menemui situkang cukur..

Klien : "Pak ternyata saya baru tahu bahwa didunia ini tidak ada tukangcukur"
Tukangcukur : "Baru saja saya selesai mencukur Bapak, bagaimana mungkin Bapak mengatakan bahwa tukang cukur itu tidak ada?"

Alih alih menjawab, siKlien mengajak si Tukang Cukur keluar pintu untuk melihat orang gila yang masih berdiridisana

Klien
: "Kalau memang tukang cukur itu ada, mengapa ada orang yang rambutnya tidak terurus seperti itu?"
Tukang cukur : "Hahahahhah.... Bapak ini bisa saja. Itu bukan karena tukang cukurnya tidak ada, Tetapi mereka yang tidak mau datang dan meminta pertolongan saya"